Jumat, 10 Oktober 2008

CALEG YANG PEDULI TERHADAP KAUM MARGINAL

Bagi sebagian Calon Anggota Legislatif (Caleg) alias Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Periode 2009-2014, PEMILU 2009 merupakan ajang pertarungan politik demi mencapai tujuan ekonomi. Maklum di Indonesia kebanyakan politisi masih mengggunakan jalur politik untuk meraih kepuasan ekonomi. Tapi motivasi itu tidak berlaku bagi Drs. Julius P. Gambe. Sebab, ayah empat anak asal Kabupaten Ende ini punya prinsip; berpolitik berarti mau berbakti. Artinya, jabatan dan perjuangan politik harus diperuntukan bagi kepentingan orang banyak...

Selama ini kursi DPR sering disalahgunakan. Kursi DPR sering dipakai sebagai jembatan korupsi, kolusi dan nepotisme. Tak banyak yang menggunakan job ini untuk mengamankan kepentingan rakyat. Toh kalau ada hanya satu dua orang saja. Yang lainnya terjebak dalam kesombongan jabatan dan angkuh terhadap kekuasaan yang disandang.

“Kalau mau jadi politisi, kalau mau jadi Anggota DPR, jangan jadikan politik sebagai rel untuk meraih kepuasan ekonomi. Politik untuk ekonomi sama dengan kita menelanjangi diri kita sendiri. Malu ah.. Kepentingan orang banyak harus diutamakan. Kalau mau kaya, jangan jadi politisi. Jadilah pengusaha. Karena politisi itu prajurit rakyat. Disuruh perjuangkan kepentingan rakyat, yah... berjuang. Bukan hanya datang, duduk, dengar, diam dan habis bulan terima gaji. Apa yang menjadi kebutuhan, apa yang menjadi kepentingan rakyat, harus diperjuangkan. Karena itulah jiwa politisi sejati,” kata Julius ----begitulah Drs. Julis P. Gambe akrab dipanggil--- saat bincang-bincang dengan Berita Rakyat di Kupang, Senin (21/7/08).

Khusus di NTT, kata Julius, masyarakat sangat memerlukan perhatian lebih dari pemerintah dan DPRD provinsi maupun Kabupaten/Kota. Sebab, kemiskinan dan ketidakadilan terhadap masyarakat kecil bukan hanya isu, tapi ini fakta. Racun kemiskinan masih dominan menggerogoti kelompok masyarakat ini. Hal ini diperparah dengan ketidakadilan, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara.

“Potensi Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDA) kita banyak, tapi sejauh itu belum diberdayakan secara maksimal. Contoh; Flores punya potensi pariwisata yang menggegerkan dunia, seperti Kelimutu, Komodo dan Taman Laut Tujuh Belas Pulau Riung. Tapi dampak ekonomi apa yang kita dapat dari potensi ini. Lihat Bali! Kalau kita mau bandingan potensi pariwisata Bali dan NTT, Bali kalah. Tapi kenapa mereka bisa menghidupi daerah dan masyarakatnya dengan pariwisata. Ya... karena disana pemerintahnya peduli dan berpihak kepada rakyat. Lah kita? Karena pemerintah kita lamban, kita lalu berharap banyak kepada para wakil rakyat yang duduk di DPRD, tapi hasilnya....?,” ujarnya, kritis.

Kini Julius telah siap menjadi Calon Anggota DPRD NTT periode 2009-2014 melalui Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). “Yang pasti, kalau saya terpilih, saya akan peduli terhadap kaum marginal. Karena saya juga orang kecil. Kehidupan orang kecil pahit sekali. Selama ini orang kecil sering dikibulin. Dulu ada partai yang katanya akan perjuangkan kepentingan orang kecil, tapi ternyata hanya slogan. Begitu kekuasaan didapat, mereka lupa semua janji-janjinya. Menjelang PEMILU mereka mulai menebar pesona. Kami tidak percaya lagi. Untuk itu saya akan jadi Caleg mewakili kaum kecil melalui partai (PPRN-Red) yang komit perjuangkan kebutuhan dan kepentingan rakyat kecil. Semoga niat tulus saya ini didukung oleh semua komunitas kaum kecil, khususnya yang ada di DAPIL (Daerah Pemilihan ) NTT 6 yakni Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo dan Ngada. Karena saya akan maju dari DAPIL 6,” pinta ayah dari Ria Gambe, Finy Gambe, Gusto Gambe dan Sela Gambe ini.

Julius lahir di sebuah kampung terpencil di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende pada 12 April 1964. Jebolan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini sehari-hari berwiraswasta. Salah satu usaha yang digeluti adalah bisnis bubur kacang hijau. Bisnis ini telah mengantarnya menjadi salah satu “orang pinggiran” yang sukses.

“Selain biaya hidup keluarga, dari bisnis ini juga saya bisa beli mobil, motor, traktor sawah, sensor kayu, dan lain sebagainya. Ini usaha kecil yang berpotensi. Bahkan masih banyak usaha-usaha kecil yang bisa diberdayakan untuk mengatasi masalah kemiskinan di NTT. Tapi ini butuh peran serta dan keseriusan pemerintah,” tegas suami dari Ny. Maria Bunga Fernandez itu. (chris parera)

Tidak ada komentar: