Jumat, 10 Oktober 2008

KISAH JENDERAL ACHMAD YANI DI SEMINARI TINGGI LEDALERO

Rencana Gerakan 30 September 1965 alias G 30 S yang dieksekusi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada Jumat dini hari 1 Oktober 1965 sebenarnya telah tercium semenjak Jenderal TNI Anumerta, Achmad Yani berkunjung ke Seminari Tinggi Ledalero di Kabupaten Sikka pada 29 September 1965 atau sehari sebelum ia dibunuh dan dimasukan ke lubang buaya. Konon, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) era Presiden Soekarno itu nyaris dibunuh oleh pentolan-pentolan PKI di Sikka persis di dalam kawasan Seminari Tinggi Ledalero.

Semasa hidup Jenderal Achmad Yani dikenal sangat dekat dengan pemuka-pemuka agama, termasuk para pimpinan agama Katholik. Itu sebabnya ketika berkunjung ke Sikka, ia menyempatkan diri bertemu dengan Rektor Seminari Tinggi Ledalero periode 1965-1966, Pater Jozef Boumans, SVD. Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari Pater Jozef dan warga Seminari Ledalero.

Tak ada yang tahu pasti apa yang dibicarakan Jenderal Achmad Yani dan Pater Jozef dalam pertemuan mereka. Namun dari kejauhan terlihat petinggi militer dan biarawan itu sangat akrab seperti teman lama yang baru bertemu. Sesekali terdengar suara tawa melengking. Tak lama kemudian hening. Begitu seterusnya.

Karena asyik mengobrol, Pater Josef maupun Jenderal Achmad Yani tak menyangka bahwa bahaya sedang mengintai mereka. Sekelompok pentolan PKI, kira-kira berjumlah 50 orang dengan parang terhunus, entah darimana datangnya, tiba-tiba sudah berada di depan pintu gerbang kawasan seminari. Mata mereka liar mengawasi sekitar. Tampang mereka sangar dan kekar. Selidik punya selidik ternyata mereka sedang membuntuti dan ingin membunuh Jenderal Achmad Yani.

Tahu kalau sang Jenderal sedang diincar oleh PKI, sejumlah frater pun langsung beranikan diri mendatangi dan melapor kepada Pater Jozef dan Jenderal Achmad Yani. Bukan main kagetnya Jenderal Achmad Yani saat itu. Apalagi ketika datang ke Ledalero, ia tidak menyertakan regu pengawal. Beruntung! Dalam situasi tegang tersebut, tiba-tiba datang satu pleton tentara lengkap dengan senjata. Begitu melihat ada tentara yang datang, gerombolan PKI itu langsung kabur melarikan diri ke dalam hutan. Mereka akhirnya dapat ditangkap dan dibunuh di sebuah tempat antara Maumere dan Koting usai peristiwa G 30 S PKI. (chris parera)

Tidak ada komentar: